***
"Dengan ini, dewan hakim menyatakan, yang bersangkutan tidak bersalah."Tok! Tok!
"Allahu Akbar!"
***
"Woi! Minggir! Satpol sialan! Berani lo ya! Allahu Akbar!"
***
"Kami! Para demonstran menuntut mundur Beliau sekarang juga! Rekan-rekan, ayo kita seret dia keluar! Allahu Akbar!"
***
"Demi agama dan akidah kita, serang rumah ibadah dan bacok mereka! Allahu Akbar!"
***
"Pemirsa, kami disini melaporkan dari tempat akan dipindahkannya rutan para tersangka kasus pengeboman. Baik. Kita lihat mereka telah keluar dan sedang menuju ke mobil yang akan membawa mereka ke rutan mereka yang baru.
"Bagaimana tanggapan Anda dengan pemindahan rutan Anda?"
"Allahu Akbar!"
***
*) Ilustrasi di atas, hanyalah fiktif belaka. Kesamaan tempat dan peristiwa, merupakan kebetulan yang disengaja.
***
Kumatikan televisi. Kubuang koran. Edan... Kenapa kalimat takbir jadi pasaran begini ya? Terdakwa, kriminal, demonstran, ‘wakil rakyat' yang berantem di gedung DPR, pembukaan pidato, semua ‘melafalkan' kalimatullah seolah kalimat itu hal yang remeh saja.








