Ini Budi...
Ini ibu Budi..
Ini bapak Budi..
***
Bel berbunyi. Ani menutup buku. Dipandanginya sampul hijau dan kelabu, dengan tulisan kuning besar menyala, "Bahasa Indonesia Kelas 1".
Setiap hari, setiap kali, setiap saat, ketika dibacanya, Ia selalu bertanya. "Kenapa harus Budi?".
Posted by Widhi Satya
|
at
09.59
|
Namaku mr. X (jangan bilang siapa-siapa ini nama sebenarnya). Aku berprofesi sebagai pejabat di salah satu lembaga. Jabatan yang kuperoleh dengan merogoh saku sangat dalam, hingga sakupun tak lagi berisi apa-apa. Pun, aku masih harus pinjam kesana kemari guna meloloskan
goal-ku.
Tak terhitung uang kukeluarkan untuk 'membeli' simpati masyarakat, yang karena tingkat intelejensi, keinginan, serta kebutuhan atau mungkin ‘sedikit' ketamakan, hingga mayoritas dari mereka tak cukup hanya di'sogok' dengan visi misi.
Hingga akhirnya... Akupun duduk di sini. Di salah satu lembaga kehormatan. Orang bilang gedung tempatku bernaung menyimbolkan kepongahan, tapi bagiku, ia menjaminkan keamanan, kenyamanan, serta kenikmatan. Tak ketinggalan pula, kemewahan tentunya.
***
Posted by Widhi Satya
|
at
14.47
|
Ruangan itu berukuran 3x4. Ruangan dimana semuanya bermula. Ruangan dimana semuanya diproses. Sempitnya volume ruangan tak membatasi ruang gerak kreativitas mengarungi dimensi imajinasi.
Berbagai macam benda tercecer dalam ruang sempit itu. Mengerumuni pria yang duduk memunggungi tempat tidur yang hampir 2 hari tak disentuhnya. Tak ada yang tahu apa yang sedang dikerjakannya sampai begitu menguras konsentrasi dan menyunat jam tidurnya.
Detik jam, gesekan pena di atas kertas, serta alunan musik dari tape compo menjadi suara yang mendominasi ruang sempit itu.
Posted by Widhi Satya
|
at
08.42
|
Pemulung itu masih mengais-ngais diantara timbunan barang bekas. Berharap kiranya masih ada benda yang "layak" untuk dipungut.
Siang yang panas terasa menyengat di kulitnya yang semakin legam. Dalam posturnya yang kecil itu tersimpan bauran perasaan pahit dan kerasnya kehidupan. Postur tubuh yang selayaknya didudukkan pada bangku kayu bersama anak sebayanya, pinggul yang ingin berontak menuntut haknya dibalutkan celana pendek merah menyala, yang diamini oleh dada dan pundak yang ingin pula dislimuti dengan kemeja berwarna putih nan santun.
Posted by Widhi Satya
|
at
08.54
|