"Assalamu'alaikum.. Warahmatullah... Wabarakaatuh.. Lama banget ga da kabar? Sehat ja kan? Sibuk apa sekarang?"
***
Tak lebih dari lima kalimat, untuk mengawali silaturahmi. Tak lebih dari satu jam untuk merekatkannya kembali.
***
Posted by Widhi Satya
|
at
17.28
|
Namaku mr. X (jangan bilang siapa-siapa ini nama sebenarnya). Aku berprofesi sebagai pejabat di salah satu lembaga. Jabatan yang kuperoleh dengan merogoh saku sangat dalam, hingga sakupun tak lagi berisi apa-apa. Pun, aku masih harus pinjam kesana kemari guna meloloskan
goal-ku.
Tak terhitung uang kukeluarkan untuk 'membeli' simpati masyarakat, yang karena tingkat intelejensi, keinginan, serta kebutuhan atau mungkin ‘sedikit' ketamakan, hingga mayoritas dari mereka tak cukup hanya di'sogok' dengan visi misi.
Hingga akhirnya... Akupun duduk di sini. Di salah satu lembaga kehormatan. Orang bilang gedung tempatku bernaung menyimbolkan kepongahan, tapi bagiku, ia menjaminkan keamanan, kenyamanan, serta kenikmatan. Tak ketinggalan pula, kemewahan tentunya.
***
Posted by Widhi Satya
|
at
14.47
|
"Ayo Wak Aji! Bisa jelasin nggak?"
***
Wak Aji. Begitu dosenku biasa menyebutku. Dosen sekaligus dekan di fakultasku. Mungkin dia tak tahu nama asliku. Baginya, aku bukanlah Widhi Satya. Aku adalah "Wak Aji"
***
Belakangan kutahu, nickname yang diberikannya, (karena aku satu-satunya mahasiswa yang mengenakan kopiah di kelas) ternyata berasal dari bahasa Betawi. Di Betawi, karena dialek serta logat mereka, panggilan yang sehari-hari kita sapa dengan Pak Haji, berubah bunyinya, hingga akhirnya orang-orang Betawi pun menyebut dengan "Wak Aji".
Aneh memang. Ternyata, bukan nama lah yang menjadi ‘identitas'ku di matanya. Tapi...
Kopiah.
Posted by Widhi Satya
|
at
11.44
|
Ujian Nasional (Unas / UN – istilah mana yang lebih tepat aku tak tahu. Tak peduli lebih tepatnya). Aku (sengaja) mencoba acuh dengan 'festival' tahunan pendidikan ini. Mencoba tutup telinga dengan suara-suara kontra (memang tak kudengar 1 suara pro pun). Karena dalam pandanganku, jika diterapkan dalam kultur masyarakat seperti di Indonesia, ujian nasional lebih banyak madhorot daripada manfaatnya.
Posted by Widhi Satya
|
at
17.28
|
Menunggu...
Orang bilang membosankan. Orang bilang memuakkan. Akan coba kubuktikan. Apakah benar demikian?
***
Menunggu membosankan karena 'menunggu'. Jadi, akan kubuat menunggu itu bukan hanya 'menunggu'.
***
Di sini, di tepi keramaian jalan raya, akan kulewati proses menungguku dengan menuliskan apa saja yang seketika terlintas di mata, telinga, maupun pikiranku.
Posted by Widhi Satya
|
at
12.52
|
Markus, Gayus, dan segala macam isu yang berkaitan dengannya menjadi menu utama berbagai headline media baik cetak maupun elektronik. Juga menjadi buah bibir masyarakat yang 'sadar berita'. Berbagai macam opini serta wacana bermunculan, baik dari pakar di bidangnya masing-masing, maupun suara-suara dari citizen jurnalism.
Dari semua yang kubaca, kulihat, kudengar (sejauh ini), semuanya serempak, sepakat, membentuk jama'ah untuk menghakimi 'nista' aktor dibalik kasus-kasus tersebut. Pembelaan dalam bentuk apapun akan segera ditanggapi dengan picingan mata apatis.
Posted by Widhi Satya
|
at
15.35
|
Gundul-gundul pacul
Gembelengan…
Nyunggi-nyunggi wakul
Gembelengan…
Wakul glimpang segane dadi sak latar…
***
Lama tak kudengar nyanyian itu. Aku rindu. Aku rindu suara anak-anak yang menyanyikannya. Lagu-lagu daerah. Bukan lagu-lagu yang 'seharusnya' tidak diperuntukkan untuk usia sebayanya.
Posted by Widhi Satya
|
at
08.29
|
"Ini slipnya… Tolong segera dibayarkan sebelum tanggal 15 ya?"
***
Tak terasa satu semester telah berlalu. Sangat cepat. Seperti baru kemarin saja. Dan, seperti biasanya, awal semester merupakan masa yang paling dinanti-nanti oleh pihak universitas. Sebaliknya, menjadi masa yang 'memberatkan' bagi mahasiswa sepertiku. Ya, membayar biaya perkuliahan
***
Fiuh… setelah antre berlama-lama, akhirnya selesai juga. Sebelum berlalu, aku membalikkan badan. Kupandangi sejenak bangunan megah yang berdiri congkak di depanku. Begitu megahnya, jika dibandingkan rumahku yang reot, ibarat membandingkan Omas dengan Sandra Dewi. Tentu saja bank itu Omasnya. Haha bercanda.
Meskipun begitu, meski rumahku kecil, dengan cat telah pudar di sana-sini, atapnya juga sering bocor kala hujan, tapi rumahku jauh lebih nyaman dan aman dari bank megah nan mewah itu.
Posted by Widhi Satya
|
at
12.52
|
APRIL MOP!!!
Kaget? dongkol? Ngumpat? Nyaci maki? Bebas! Ini april mop!
***
April Bodoh dan Konyol
Andai aku masih seorang remaja hijau (aku heran kenapa remaja dimajaskan dengan "hijau) bisa dipastikan aku akan latah dengan hingar bingar April Mop yang, sekarang ini kukategorikan: tindakan bodoh, lelucon "konyol".
Posted by Widhi Satya
|
at
14.21
|
Pemulung itu masih mengais-ngais diantara timbunan barang bekas. Berharap kiranya masih ada benda yang "layak" untuk dipungut.
Siang yang panas terasa menyengat di kulitnya yang semakin legam. Dalam posturnya yang kecil itu tersimpan bauran perasaan pahit dan kerasnya kehidupan. Postur tubuh yang selayaknya didudukkan pada bangku kayu bersama anak sebayanya, pinggul yang ingin berontak menuntut haknya dibalutkan celana pendek merah menyala, yang diamini oleh dada dan pundak yang ingin pula dislimuti dengan kemeja berwarna putih nan santun.
Posted by Widhi Satya
|
at
08.54
|
Terkejut. Itu kesan pertama saat gol pertama bersarang di gawang Persipura padahal pertandingan belum genap satu menit.
Buyarlah semua harpan. Harapan karena bermain di kandang. Harapan bermain lepas karena nothing to lose.
Harapan yang mungkin telah demikian pongahnya hingga menyangka kemenangan dari Juara tiga kali beruntun J-League, tinggal menunggu menjadi nyata.
Posted by Widhi Satya
|
at
09.17
|
Kongres Sepakbola Nasional 30 - 31 Maret 2010 sedang digelar. KSN yang diketuai mantan Ketua Umum KONI Agum Gumelar ini digelar, berawal dari kekecewaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta insan sepak bola nasional terkait semakin mundurnya prestasi sepak bola Indonesia di bawah kepemimpinan Nurdin Halid.
Selain terkait carut-marutnya kompetisi dan maraknya kerusuhan
supporter, Indonesia gagal di sejumlah turnamen internasional. Selain babak belur di babak penyisihan SEA Games Laos, timnas senior Indonesia gagal menembus final Piala Asia di Qatar. (metrotvnews, 27/03/10)
Kongres tersebut mengagendakan penjabaran tiga masalah yaitu organisasi, prestasi, dan dana. (Kompas, 30/03/10). Apapun agenda dan prosesnya, semoga hasil yang terbaik dapat dihasilkan.
Posted by Widhi Satya
|
at
14.09
|
6n / 55 DH PeRn4H lt tul54n Yan6 k3k 6n lM?
p6mn 64n / 55? b5 bcNya k6k?
5us Yk? wkwKwk
tuL5n N dd3D1k5kn b4t pr 4lY... d4r jns, kLmpk, m3reK, t1p, r5, 3tc lH!
MHn dbC b2 YK? mS1 Lm N63rt ju6 y 6mn c4rNy bac N tl54N? wakk! 6W j4 k6 t4u!!! gbRk!!!
***
Merasa dejavu? Pernah melihat tulisan seperti itu sebelumnya?
Alay! Begitu mereka biasa dijuluki.
Posted by Widhi Satya
|
at
16.33
|
Hasil gotong royong kemarin: beberapa memar, beberapa luka lecet, serta bau keringat yang masih membekas. Semuanya membuatku merasa "sangat lelaki".
Desaku
Entah ini cuma menurutku saja, entah memang fakta, tapi kurasa kegiatan gotong royong hanya ada di desa "tradisional" saja. Kalaupun ada, daerah perkotaan, perumahan elit, yang menyelenggarakan kegiatan gotong royong, itupun sangat jarang.
Posted by Widhi Satya
|
at
08.52
|
Iseng-iseng.
Google.Com >> Widhi Satya >> search.
xxx results found.
***
Posted by Widhi Satya
|
at
14.37
|
Alkisah di sebuah terminal:
"Bajingaaan!"
"Bang jangan ngomong kasar-kasar"
"Keparaaat!"
"Udah bang, ga bae ngomong kasar gitu"
"Bangsaaat!"
"WOI! ANJING! Budeg lo ya! Gw bilangin dr tadi ga ngerti-ngerti!"
***
Alkisah di sebuah sekolah, dalam salah satu kelas:
"Baik anak-anak.. Siapa yang bisa mengerjakan soal di papan tulis? Silakan maju ke depan"
Posted by Widhi Satya
|
at
14.30
|
"Windows is shutting down..."
Komputer telah kumatikan. Setelah membereskan beberapa benda yang berserakan, berangkatlah aku pulang.
Hari ini, Sabtu sore yang cerah. Setelah diguyur hujan yang sangat lebat, nuansa sore ini menjadi begitu cerah tapi sejuk, dan tentunya indah. I love beautiful evening..
Tak seperti biasanya, sabtu sore aku pulang dari tempat kerja. Semenjak kuliahku cuma satu kali seminggu, maka setiap hari kuhabiskan waktuku untuk bekerja. Tak terkecuali hari ini.
Posted by Widhi Satya
|
at
08.07
|
Pukul tujuh pagi. Kupacu motorku sekencang mungkin. Tujuan pertamaku adalah Bank. Demi menghindari antrean panjang, aku sengaja berangkat pagi-pagi sekali.
***
Nomer 11. Aku menghela nafas. Kulirik jam dinding. Pukul setengah delapan pagi. Pun, antrian sudah 2 digit. Padahal kasir buka pukul 8.15.
Posted by Widhi Satya
|
at
20.45
|
Minggu pagi.. Aku ingin sekali bermalas-malasan di hari minggu. Aku ingin dan aku bisa. Tapi tidak di pagi hari.
Pagi hari, lebih tepatnya pagi buta adalah waktuku beraktifitas yang berurusan dengan air.
Kenapa? Karena di desa (kampung) sepertiku, masih belum terjamah PDAM dan masih harus mengelola air bersih sendiri (bagi yang tidak ingin menggunakan air bekas irigasi). Air bersih ini didapat dari mata air pegunungan asli. Karena aku memang tinggal di daerah pegunungan.
Tapi celakanya, mungkin karena kaur air di desaku kurang tahu, tidak tahu atau mungkin tidak mau tahu sehingga menyepelekan soal urusan teknis manajemen air, maka kacaulah pembagian porsi air untuk masing-masing KK.
Posted by Widhi Satya
|
at
10.01
|
"Toooot!!!"
Suara klakson membuyarkan lamunanku.
"Tiiiiiin!!"
Belum lagi gaung klakson pertama habis sudah disusul dengan klakson lain. Kompak. Seperti pawai ketika musim pemilu.
Satu persatu kendaraan melewatiku. Padahal aku sudah menepi dari semula. Tidak dalam posisi tanggung. Tapi masih saja klakson2 itu menyemprotku.
Posted by Widhi Satya
|
at
19.22
|