Gurun Kehidupan [2] : Bukan Hanya Batu di Tepi Jalan


Lain ladang, lain belalang, lain lubuk lain ikannya...

Begitu pepatah mengatakan. Begitupun apa yang kusaksikan. Lain negaraku, negara kita, Indonesia tercinta, lain pula di Jepang sana. Pikiran dan kesan serupa, lenyap, sirna, tak sampai acara memasuki menit kelima.

Episode petualangan yang kusaksikan, berlatar belakang di sebuah gurun pasir.

"I can't believe such a place exist in this country. You see? We see nothing but sand here", begitu kata petualang, sekaligus pembawa acara yang tak kuingat siapa namanya.

Posted by Widhi Satya | at 10.05 | 0 comments

Gurun Kehidupan [1] : Petualang



20:00 BBWI. Seperempat jam sebelumnya, aku baru saja tiba di rumah. Kehujanan, kedinginan, kelaparan. Melewati jalanan yang gelap, pekat tanpa satupun penerangan selain kilat. Malam yang naas bagi sebagian orang. Tapi tidak bagiku. "Aku makhluk bernyawa, yang takkan pernah bisa didikte oleh rutinitas, lalu kemudian menyalahkan mereka sebagai monotonitas". Tantangan, liku, rintangan, besar, ataupun kecil, bagiku seperti sebuah ‘iklan' yang meruntuhkan kebosanan.

"Ini baru namanya hidup".
***

20:00 BBWI. Ada apa dengan waktu itu? Ada apa dengan jam itu? Apa yang terjadi ketika jarum pendek menunjukkan angka delapan, tepat ketika jarum panjang menunjuk angka dua belas?

Posted by Widhi Satya | at 09.57 | 0 comments

Provokasi Seorang Maling

Sumber Gambar : Mekarina.wordpress.com





Namaku maling bin maling. Bapakku maling. Ibuku juga maling. Profesi kami sekeluarga maling.

Organisasi? Sindikat? Mafia? Atau apapun kalian menyebut kami. Toh, kami tetap maling. Seperti maling-maling yang lainnya, pekerjaan kami mencuri.

Mencuri telah menjadi akar budaya, telah mendarah daging, telah merasuk ke sumsum, menjadi penyakit genetis tak terputuskan, tak tersembuhkan.

Mencuri memang telah menjadi penyakit akut kami. Tapi, kami tak ingin sendiri. Beruntunglah, karena mencuri bersifat ‘familiar' hingga ia mudah untuk ditularkan.

Posted by Widhi Satya | at 18.03 | 0 comments

Anda Uang Mempunyai Nyawa...

Indonetwork.web.id



“Bagus banget! Berapa duit ni bang?”
…

“Pak, aku pengen nglanjutin sekolah..”
“Maaf ya nak, bapak tak punya uang…”
…

“Sekarang kamu ama dia?”
“Iya mak. Setelah kuliahnya selesai, rencana dia mau nglamar saya”
“Punya duit berapa dia berani nglamar kamu!”

Posted by Widhi Satya | at 16.52 | 0 comments

Walimah : Antara Doa dan Puja


Hari Ahad. Seperti yang telah dijanjikan sebelumnya. Budhe mengajakku ke acara walimah pernikahan kerabatnya. Kerabat yang mana, tak perlulah kutanya. Yang perlu kulakukan hanyalah mengantar Budhe, sebagai perwujudan rasa hormat dan bakti serta ‘imbal jasa’ karena Beliau telah merawatku selama ini.

***

Sampai sudah di tujuan. Motor kuparkirkan. Seperti yang sudah kubayangkan sebelumnya, “tempat yang akan kutuju adalah restoran megah”.

Ada satu pemandangan yang menarik perhatianku karena menurutku, amat mencolok, kontras sekali dengan segala rupa yang ada di sekelilingnya. Ah… kurasa tak seorang pun menyadarinya.

Posted by Widhi Satya | at 14.53 | 0 comments

Kenapa Harus Budi?


Ini Budi...


Ini ibu Budi..

Ini bapak Budi..
***

Bel berbunyi. Ani menutup buku. Dipandanginya sampul hijau dan kelabu, dengan tulisan kuning besar menyala, "Bahasa Indonesia Kelas 1".

Setiap hari, setiap kali, setiap saat, ketika dibacanya, Ia selalu bertanya. "Kenapa harus Budi?".

Posted by Widhi Satya | at 09.59 | 1 comments

Ada burung di Antennaku

Dokumentasi Pribadi





Hai kau yang bertengger di atas sana. Berkicau dan meracau. Nyaring, merdu, semaumu, sesukamu.

Tak tahukah kau, benda apa yang kau hinggapi? Ah! Mana mungkin kau tahu.

Kuberitahu. Itu namanya antenna. Kata bapakku yang ahli elektronik, gunanya untuk menerima transmisi sinyal UHF.

Apa itu UHF? Mana kutahu! Yang aku tahu, dari benda yang kau tenggeri itu, televisiku bisa menampilkan gambar dan acara yang beraneka rupa.

Jangan tertawa, karena saking beranekanya, hingga tak jarang (baca: sering) sekali seragam, hingga aku bingung, apakah mungkin televisiku monogram?

Posted by Widhi Satya | at 09.49 | 0 comments