Kembali melanjutkan perjalanan. Masih berlatar belakang dan berlokasi di gurun yang sama. Tempat-tempat yang dikunjunginya, antara lain : pembuat telur pasir, pembuat patung pasir, sawah dari pasir.
Tujuan kedua adalah pembuat telur pasir.
‘Tsuna Tama' namanya. Didemonstrasikan bahwa telur diletakkan di sebuah kotak, dikubur dengan pasir, kemudian dimasukkan ke dalam pemanggang. Setelah matang, kemudian dibelah, dan diperlihatkan perbedaan telur yang dipanggang dengan pasir dan telur yang hanya direbus dengan cara biasa.
Telur pasir, diproduksi massal sebagai
home industry. Beberapa karyawan juga dipekerjakan di sana. Toko-toko di sekitar, menjadi tempat pemasaran. Sebagai souvenir, maupun untuk dikonsumsi, telur pasir tetap menjadi pilihan yang menarik.
Posted by Widhi Satya
|
at
10.09
|
Lain ladang, lain belalang, lain lubuk lain ikannya...
Begitu pepatah mengatakan. Begitupun apa yang kusaksikan. Lain negaraku, negara kita, Indonesia tercinta, lain pula di Jepang sana. Pikiran dan kesan serupa, lenyap, sirna, tak sampai acara memasuki menit kelima.
Episode petualangan yang kusaksikan, berlatar belakang di sebuah gurun pasir.
"
I can't believe such a place exist in this country. You see? We see nothing but sand here", begitu kata petualang, sekaligus pembawa acara yang tak kuingat siapa namanya.
Posted by Widhi Satya
|
at
10.05
|
20:00 BBWI. Seperempat jam sebelumnya, aku baru saja tiba di rumah. Kehujanan, kedinginan, kelaparan. Melewati jalanan yang gelap, pekat tanpa satupun penerangan selain kilat. Malam yang naas bagi sebagian orang. Tapi tidak bagiku. "Aku makhluk bernyawa, yang takkan pernah bisa didikte oleh rutinitas, lalu kemudian menyalahkan mereka sebagai monotonitas". Tantangan, liku, rintangan, besar, ataupun kecil, bagiku seperti sebuah ‘iklan' yang meruntuhkan kebosanan.
"Ini baru namanya hidup".
***
20:00 BBWI. Ada apa dengan waktu itu? Ada apa dengan jam itu? Apa yang terjadi ketika jarum pendek menunjukkan angka delapan, tepat ketika jarum panjang menunjuk angka dua belas?
Posted by Widhi Satya
|
at
09.57
|
Namaku maling bin maling. Bapakku maling. Ibuku juga maling. Profesi kami sekeluarga maling.
Organisasi? Sindikat? Mafia? Atau apapun kalian menyebut kami. Toh, kami tetap maling. Seperti maling-maling yang lainnya, pekerjaan kami mencuri.
Mencuri telah menjadi akar budaya, telah mendarah daging, telah merasuk ke sumsum, menjadi penyakit genetis tak terputuskan, tak tersembuhkan.
Mencuri memang telah menjadi penyakit akut kami. Tapi, kami tak ingin sendiri. Beruntunglah, karena mencuri bersifat ‘familiar' hingga ia mudah untuk ditularkan.
Posted by Widhi Satya
|
at
18.03
|
“Bagus banget! Berapa duit ni bang?”
…
“Pak, aku pengen nglanjutin sekolah..”
“Maaf ya nak, bapak tak punya uang…”
…
“Sekarang kamu ama dia?”
“Iya mak. Setelah kuliahnya selesai, rencana dia mau nglamar saya”
“Punya duit berapa dia berani nglamar kamu!”
Posted by Widhi Satya
|
at
16.52
|
Hari Ahad. Seperti yang telah dijanjikan sebelumnya. Budhe mengajakku ke acara walimah pernikahan kerabatnya. Kerabat yang mana, tak perlulah kutanya. Yang perlu kulakukan hanyalah mengantar Budhe, sebagai perwujudan rasa hormat dan bakti serta ‘imbal jasa’ karena Beliau telah merawatku selama ini.
***
Sampai sudah di tujuan. Motor kuparkirkan. Seperti yang sudah kubayangkan sebelumnya, “tempat yang akan kutuju adalah restoran megah”.
Ada satu pemandangan yang menarik perhatianku karena menurutku, amat mencolok, kontras sekali dengan segala rupa yang ada di sekelilingnya. Ah… kurasa tak seorang pun menyadarinya.
Posted by Widhi Satya
|
at
14.53
|
Ini Budi...
Ini ibu Budi..
Ini bapak Budi..
***
Bel berbunyi. Ani menutup buku. Dipandanginya sampul hijau dan kelabu, dengan tulisan kuning besar menyala, "Bahasa Indonesia Kelas 1".
Setiap hari, setiap kali, setiap saat, ketika dibacanya, Ia selalu bertanya. "Kenapa harus Budi?".
Posted by Widhi Satya
|
at
09.59
|