Liburan.... [1]



"Aku ingin masuk ke sekolah favorit seperti kakak!"

"Makanya.. Yang rajin belajarnya"

"Kenapa kamu ingin masuk sekolah favorit Yusuf?"

"Kan gengsi bi! Lagipula, kalau aku bisa diterima di sekolah favorit, berarti aku pintar bi!"

"Hahaha..
Dengar Yusuf, nilai seorang manusia, baik di mata orang lain maupun di Mata Tuhannya, tidak hanya diukur dari matematis angka IQ maupun angka-angka dalam ijazah"


"Maksud abi?"

"Maksud abi.. Meskipun kelak kamu tak masuk sekolah favorit pun kamu tetap anak kesayangan kami Yusuf.." umi menjawab sambil memeluk Yusuf dengan gemas.

Yah.. Mungkin itulah jawaban paling sederhana untuk Yusuf. Karena memang dalam usianya yang masih kelas 2 SMP, ucapan abi mungkin terlalu lewat dari masanya, sehingga Yusuf adikku masih sulit mencernanya.

Kulihat ke luar, embun menetes dari ujung-ujung jendela mobil.

Masih pagi buta memang.

Kami sengaja berangkat pagi-pagi karena ingin berkeliling lebih dahulu. Abi menjanjikan hari ini adalah untuk keluarga sepenuhnya. Pagi sampai sore, mengelilingi kota Jakarta dan tempat-tempat rekreasinya. Baru pada malam harinya, menyaksikan Timnas bermain melawan Oman di Gelora Bung Karno.

"Menurutmu apa Timnas kita punya peluang Yusuf?" Pertanyaan Abi membuyarkan lamunanku.

"Entahlah bi... Sepertinya sulit"

"Hey.. Semangat nak! Bukankah kamu sudah menanti-nanti pertandingan ini!"

"Iya Yusuf.. Menonton langsung di GBK kali ini sengaja sebagai hadiahmu berhasil masuk sekolah favorit.
Dan... Juga abimu ini baru saja dipromosikan.." 

Aku agak terkejut mendengar berita dari umi.

"Bener bi! Alhamdulillah..."

"Ternyata abi kita ini bisa juga melakukan sesuatu dengan benar.."

Ucapan adikku Yunus yang bernada meremehkan membuat kami semua tertawa.

"Besok kalo Yunus bisa masuk sekolah favorit seperti kak Yusuf, dirayain juga ya bi!"

"Eh.. Belum bisa janji sayang.. Kamu kan tahu sendiri.. Jadwal abi padat, kadang mendadak"

"Abi pilih kasih!"

Terlihat wajah adikku mulai cemberut.

"Begini saja, anggap liburan kali ini sebagai hadiah kakakmu, abi, dan juga kamu kelak. Istilahnya, dibayar dimuka"

Terlihat wajah abi yang tertawa dari spion depan.

"Abi curang!"

Aku, umi, dan abi seolah sepakat menertawakan adikku yang belum sadar kalau dirinya sedang digoda.
Perjalanan yang benar-benar menyenangkan.

Alhamdulillah.. Aku dilahirkan di tengah keluarga yang lengkap. Keluarga yang hangat, dan tentunya keluarga yang sakinah.

Terima kasih ya Rabb..

***

"Yah... Abi tu gimana si! Masa hal sepenting itu bisa sampai lupa!!"

"Sudah abi cari-cari di dalam mobil, tas, saku, semuanya nihil. Sepertinya masih ketinggalan di rumah..."

"Jadi, kita ga jadi nonton bolanya ne!"

"Mau gimana lagi sayang..Tiketnya ketinggalan di rumah. Lagipula, tiket itu modelnya pesen. Kalau beli sekarang jelas ga bisa, karena pasti sudah habis"

"Ga mau! Abi harus tanggung jawab! Gimanapun caranya harus jadi nonton!"

...

"Heh..."

Aku hanya bisa menghela nafas menyaksikan perdebatan bapak anak itu.

Tapi abi juga salah..  Nonton langsung bareng inilah acara utamanya.

Aku dan adikku memang penggila bola. Bisa nonton bareng sekeluarga langsung di stadion utama adalah event yang langka.

Kalau abi sampai lupa dan meninggalkan tiket di rumah, itu sudah dosa besar!

Wajar saja, kalau adikku sampai mencak-mencak.

Kulihat penunjuk waktu di handphone-ku. Aku maju menengahi perdebatan mereka.

"Bi, nus. Sekarang kalau kita pulang aja gimana? Kalau pulang sekarang, insya Allah masih sempat nonton di rumah."

"Kok nonton di rumah si kak..."

"Mau gimana lagi? Tiketnya saja ditinggalin sama abi! Jelas tanpa tiket kita dah ga bisa masuk. Daripada ga nonton sama sekali? Lagipula, liburan tadi kan dah cukup nyenengin? Ya Yunus ya? Pulang aja ya?"

Walau dengan muka cemberut, adikku mau pulang dan beranjak masuk ke mobil.

Aku menoleh ke abi. Abipun mengert.

Aku berbalik, membantu umi membereskan barang-barang dan menyusul abi dan adikku, yang kelihatan sudah mulai bercanda di dalam mobil.

Dan, berangkatlah kami pulang.

Bersambung 

Liburan [2]
********************************

Maaf, berhubung waktu yang tersedia bagi saya gunakan untuk menulis terlalu sempit, maka tulisan ini Insya Allah akan saya lanjut ke bagian 2...

Ini tulisan fiksi pertama saya... Untuk kritisasi, masukan, serta saran silakan isikan di kolom komentar di bawah...

Terima kasih telah meluangkan waktu membaca...

*Regard
Widhi Satya

Posted by Widhi Satya | at 11.49

2 comments:

Anonim mengatakan...

gagal menonton bola secara langsung? pasti kecewa ya, tapi insya Allah ada hikmah yang tersembunyi dibalik kelupaan Abi, tinggal bagaimana kita menyikapinya. ditunggu kelanjutan kisahnya, semoga hikmah itu ditemukan di cerita kedua.

Widhi Satya mengatakan...

syukron abi... :)

Posting Komentar

i'm waiting for your comment...

share your opinion on the box below...