Kuman yang Terlupakan...

Sebelum kita makan dik...

Cuci tanganmu dulu...

Menjaga kebersihan dik...

Untuk kesehatanmu...


***

Masih ingat potongan lagu ciptaan Pak Kasur diatas? Lagu tersebut sempat populer di pertengahan dekade 1990-an. Bagiku, lagu dengan melodi sederhana dan lirik yang singkat tersebut, sarat akan makna.

Selain karena telah jarangnya, lagu-lagu serupa di ‘era' sekarang ini. Era industrialisasi ‘cinta' yang bertanggung jawab terhadap ‘matang' lebih dininya anak-anak, yang karena tak ada pilihan lain ‘terpaksa' menjadi konsumennya.

Tak ada lagi Sherina, tak ada lagi Joshua, tak ada lagi Tasya. Hingga, The Virgin, D'massiv, Wali, dan sebagainya menjadi ‘satu-satu'nya pilihan mereka.


Ah... tinggalkan industrialisasi tanpa idealisasi tersebut...

Makna yang tersirat (sangat jelas) dalam potongan lagu diatas, yaitu tentang pentingnya menjaga kebersihan sebelum makan. Mencuci tangan untuk membunuh semua kuman. Hingga higiensi proses makan tetap terjaga, dan kesehatan pun terjamin. Dan kesemuanya, perlu ditanamkan pada anak-anak sejak dini supaya menjadi kebiasaan demi kesehatannya.

Sering kita lihat dalam iklan-iklan sabun kesehatan. Tentang kontaminasi berbagai kuman melalui sentuhan. Yang kesemuanya perlu dan harus dibersihkan ketika hendak makan. Terlepas dari komersil atau bukan tujuannya.. Tetap saja, sedikit banyak ada fakta didalamnya.

Kita begitu khawatir dengan higiensi makanan serta segala macam peralatannya. Kita begitu takut akan kuman-kuman yang membawa penyakit masuk ke dalam tubuh kita.

Tapi, tahukah Anda? Ada kuman-kuman tak kasat mata, yang sering diabaikan dan tanpa kita sadari, masuk ke dalam tubuh dan mengalir melalui sistem peredaran darah, masuk ke otak, dan ke seluruh anggota tubuh lain.

Sudahkah kita khawatir akan ‘kuman' dalam harta kita? Harta yang kita tukarkan menjadi makanan... Sudahkah mereka dizakatkan? Sudahkah mereka memenuhi kriteria jika ditanya darimana mereka berasal? Dan kemana mereka dibelanjakan?
"Seorang anak Adam sebelum menggerakkan kakinya pada hari kiamat akan ditanya tentang lima perkara: (1) Tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya; (2) Tentang masa mudanya, apa yang telah dilakukannya; (3) Tentang hartanya, dari sumber mana dia peroleh dan (4) dalam hal apa dia membelanjakannya; (5) dan tentang ilmunya, mana yang dia amalkan." (HR. Ahmad)
Harta-lah satu-satunya hal yang dimintai pertanggungjawaban ganda. Darimana dan kemana? Jika ‘steril' ia didapat, kemudian ia ditukarkan menjadi makanan, maka ‘steril' dan ‘higienis' pulalah makanan yang kita makan. Dan tahukah, jika ‘sterilitas' makanan tersebut, sangat mempengaruhi watak, akhlak, perilaku, pola pikir, serta nurani Si Pemakan? Bersih ia, bersih pulalah jiwa. Kotor ia, tercemar pulalah jiwa.
"Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati." (HR. Bukhari)
Kiranya, tak perlu kusebutkan apa-apa dan darimana harta ‘kotor' itu berasal. Media kita telah terlalu banyak meng'eksploitasi' tentangnya. Atau mungkinkah karena over exploited hingga, kesemuanya menjadi hal yang ‘dilumrahkan'? Ah... What a pathetic moral hazard.
***

Masih segar dalam ingatan kita, tentang kisah seorang lelaki bernama Idris (lengkapnya Idris bin Abas). Lelaki yang kemudian dikenal karena kezuhudannya. Begitu zuhudnya ia, buah yang tak sengaja ia temukan dan ia makan satu gigitan, ia susuri sungai terjal dan panjang hanya untuk mencari pemilik buah itu dan meminta keridlaan atas satu gigitan yang telah terlanjur masuk ke dalam pencernaannya.

Susah payah, lelah, bahkan perasaan putus asa urung ia acuhkan. Ia lebih takut, buah yang hanya satu gigitan itu, kelak menjadi bara yang membakar pencernaannya...
"Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya." (HR. Ath-Thabrani)
Tak sia-sia pencariannya. Ditemuinya Si Empunya buah guna meminta maaf dan memohonkan ridlanya. Jauh dari harapan. Sang Pemilik mensyaratkan agar Idris membantunya dan membebani berbagai pekerjaan sukarela sebagai penebus atas ke'sembrono'annya.

Alih-alih protes dan menolak, ia jalani hari-hari ‘perbudakan' dengan ikhlas. Dan, ketika tiba hari yang ditentukan sebagai hari berakhirnya perjanjian. Maka, hari itu pulalah jatuh tempo bahwa satu gigitan buah telah halal. Begitu pikirnya.

Lagi-lagi, semua tak seperti dugaan. Pemilik mensyaratkan satu hal lagi. Yaitu, agar ia mau menikahi putrinya yang buta, tuli, bisu, bahkan tak memiliki kaki dan tangan.

Lagi-lagi, ia terima tanpa menyanggah sedikitpun. Tapi, satu hal lagi yang tak diduganya, dan tanpa dapat ia tutupi, ia terkejut bukan main karenanya. Putri yang disebutkan dan dalam gambarannya adalah seorang cacat fisik, ternyata cantik jelita dan tak kurang suatu apa.

"Putriku buta, karena tak pernah melihat segala sesuatu yang diharamkan oleh-Nya. Dia tuli, karena tak pernah mendengar segala sesuatu yang yang diharamkan oleh-Nya. Dia bisu, karena tak pernah mengucapkan segala sesuatu yang diharamkan oleh-Nya. Dia juga tak memiliki kaki dan tangan yang digunakan untuk melakukan hal-hal maksiat dan diharamkan oleh-Nya. Nikahilah ia, dengan restuku, ia sah menjadi istrimu".

Tak heran, dari kezuhudan kedua orang tuanya, lahirlah seorang anak jenius yang dalam usia 9 tahun (beberapa riwayat menyebutkan 7 tahun) telah mampu menghafal Alquran. Dan dalam usia dewasanya, menjadi Imam Mazhab yang memiliki jama'ah terbanyak. Dialah Imam Syafi'i.
***

Masih banyak riwayat serupa. Riwayat tentang orang-orang yang sangat menjaga makanannya dan memiliki pandangan bahwa "Rizki selalu halal."

Dan salah satunya, tentang seorang perempuan penjual susu. Setiap kali mencampur susu dengan air ia sangat hati-hati. Ia takut susu itu hilang kemurniannya. Ia tak mau membohongi si pembeli. Dan dengan sikap kehati-hatian perempuan itulah, Allah mengaruniakan seorang anak shaleh. Yang ahirnya ketika tumbuh besar menjadi sosok yang luar biasa. Sosok itu adalah Umar bin Abdul Aziz. Siapa tak kenal khalifah zuhud ini?
"Ah... Itu kan riwayat. Di tengah realita sekarang ini, hal itu hampir mustahil".
Tengoklah pengalaman Sus Woyo. Yang dalam kisahnya, ia memiliki teman yang begitu zuhud. Penasaran, ia temui orang tua Si Zuhud ini.

Salim namanya. Dari cerita orang-orang terdekatnya, ia tak pernah mau menerima uang ‘serangan fajar' ketika Pemilu tiba.
"Allah melaknat penyuap, penerima suap dan yang memberi peluang bagi mereka." (HR. Ahmad)
Juga, ia tak pernah menyimpan uang di bank konvensional. Riba katanya.
"Akan datang satu masa dimana tiada seorangpun yang tidak makan uang riba. Kalau tidak ribanya maka ia akan terkena asapnya (atau debunya)." (HR. Abu Dawud)
***

Semoga riwayat-riwayat di atas, dapat mengingatkan kembali tentang arti pentingnya ke'halal'an. Dan bukan hanya menjadi label yang ditempelkan dalam makanan. Bukan hanya menjadi "syariah" embel-embel saja. Bukan hanya menjadi kopiah dalam penampilan saja.
"Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya." (Q.S. 5 : 88)
Wallahua'lam bisshowab...

Nuwun...

Widhi Satya.

Posted by Widhi Satya | at 14.29

1 comments:

n_new_here mengatakan...

Keren,,

Posting Komentar

i'm waiting for your comment...

share your opinion on the box below...